Rabu, 15 April 2009

kesaksian gocap

Kesaksian Gocap : Akhirnya Saya Ke Luar Dompet..
Kenalkan, nama saya Gocap, dari keluarga Uang. Dibandingkan kakak-kakak saya, Gopek, Goceng atau Goban, mungkin saya yang paling nggak ngetop. Meskipun saya dan Gopek sama-sama terbuat dari logam, tapi Gopek lebih beruntung. Dia masih punya versi dirinya yang berupa kertas. Beruntung? Ya, sebab, entah dengan proses bagaimana, manusia membuat sehelai kertas bernilai lebih mahal daripada logam. Setidaknya itu menurut mereka. Bagaimanapun, saya harus tetap percaya diri, kata teman saya si Dompet Sumpek.
Manusia memang aneh. Seperti juga pemilik saya yang terakhir. Dia mendapatkan diri saya, dan beberapa kembaran saya, dari beberapa toko swalayan. Lalu kami hanya disimpan di Dompet Sumpek berjejal bersama-sama Seceng, Gopek, Goceng.. Kalau kami beruntung, kami bisa sesekali berdekatan dengan lembaran Ceban, Noban bahkan Goban, lalu mencium wangi mereka, merasakan halus tubuh mereka. Tapi hanya sebentar. Pemilik saya tidak suka menyimpan uang pecahan besar di Dompet Sumpek. Dia punya Dompet Kulit yang ditaruh di bagian dalam tas. Mungkin untuk mempersulit pencopet yang pernah meraba tempat tinggal saya, tapi tak mendapat apa-apa.
Sebenarnya ada satu-dua Jigo di Dompet Sumpek, tempat saya tinggal. Nah, mereka bernasib lebih apes. Bukan hanya tidak akan pernah dikeluarkan dari situ. Bisa jadi begitu keluar, mereka hanya akan masuk tong sampah. Atau tergeletak tanpa ada yang memerhatikan selamanya. Sebagai Gocap, saya bersyukur, pemilik saya yang aneh masih memberi saya harapan. Sesekali saya melihat kembaran saya diberikan pada kasir toko tempat kami dikeluarkan. Yah, perjalanan kami hanya di situ-situ saja, makanya kami kuper. Kami tidak akan berakhir di sebuah restoran, angkot, bioskop... Bahkan pemilik warung rokok bakal menganga jika menerima kami.
Tapi, pagi ini akhirnya hidup saya berubah. Setelah berbulan-bulan mendekam di Dompet Sumpek, akhirnya saya bisa melihat dunia luar yang penuh warna! Ramai pula, karena saya berpindah tangan ke seorang petugas DLLAJR Terminal Bus Bogor. Sesaat saya melihat pemilik saya cemberut. Saya tahu, dia tidak pernah membayar pungutan di terminal bus yang menurutnya tidak jelas itu. Sodoran karcis (retribusi?) selalu dibalasnya dengan gelengan kepala atau lambaian tangan. Herannya, para petugas itu tidak pernah mendesak penumpang yang tidak mau bayar. Seakan memaklumi keraguan atau keengganan para penumpang. Memang sih, cuma 200 perak, tapi sepertinya pemilik saya, dan sejumlah penumpang lain, meragukan kegunaan pembayaran pungutan itu. Untuk apa?
Pagi ini, berkat ketatnya barisan petugas DLLAJR di terminal, ditambah hiruk pikuk himbauan lewat megafon, saya si Gocap, dan tiga rekan saya, bisa melihat dunia luar. Sempat saya lihat senyum kemenangan pemilik saya ketika menyerahkan kami berempat ke tangan petugas yang acuh tak acuh menerima kami. Tidak ada protes, tidak ada keluhan, bahkan kami berempat tak sempat bertangis-tangisan saat berpisah dengan Dompet Sumpek. Kalaupun petugas itu protes, mungkin pemilik saya akan bilang, "Ini pungutan diatur oleh pemerintah, gocapan juga dikeluarkan oleh pemerintah. Masak pemerintah sendiri nggak mau mengakui gocap sebagai alat pembayaran sah?"

Tidak ada komentar: