Kamis, 30 April 2009

aku turut berduka... di kesedihanmu, karena itu yang menjadikan kita dekat....
aku turut bahagia... di kesenanganmu, karena itu yang membuat kamu nyaman....

meskipun aku hanya sebagian dari dirimu.... dan mungkn tak berarti.
tapi kamu adalah kesatuan diriku... yang membuat hidup ku jadi berarti...

Rabu, 15 April 2009

jadilah yang terbaik untuk apa yang telah kamu pilih dan tentukan......
dan aku akan selalu mendoakan itu........
untuk apapun.....
tentang siapapun......
kenapa terdiam....... tak mengertikah atau hanya bersembunyi di balik bibir yang membisu itu???
Kenapa tak pernah kau tambatkan.
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu.
pelabuhan tenang yang mau menerima.
kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada.
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

semua tidak abadi,, dan akan hilang.... memang pernah datang,,, tapi juga akan pergi...

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap
berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu
hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat
yang kuterima di sini

Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat
dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata,
ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang
kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti.
Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat
menyelamatkanku kini

Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya
sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa
aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua
Hijau daun dan rerumputan, pohon-pohon tinggi menjulang yang memberikan keteduhan, embun pagi yang bertengger di pucuk-pucak daun, satu persatu bergulir dan jatuh ketanah bersamaan dengan terbitnya sang fajar. Sinarnya bagitu mencerahkan, menambah kehangatan pagi menggantikan malam berselimut dingin. Nyanyian unggas riang bersahutan mengkhabarkan datangnya pagi. Bunga-bunga kembali merekah menghiasharumi bumi, dahan-dahan serta dedaunan menari bergandengan tangan bangga menjadi bagian dari aksesori alam. Gemericik air mengaliri setiap sudut bumi dengan bebasnya. Dan bila malam tiba, saatnya rembulan menebarkan cahaya senyumnya yang anggun setelah sebelumnya kemilau senja nan elok senantiasa menghantarkan siang kepada malam. Taburan bintang-bintang di langit dan hembusan angin malam membasuh hangat seluruh alam. Maka, sempurnalah segalanya.
Untuk menambah kesempurnaan itu, maka Rabb Sang Pelukis keindahan alam pun memilihkan sebagian manusia untuk menjaga kelestariannya. Namun disisi mereka, terdapat pula manusia-manusia pembuat kerusakan di muka bumi. mereka menebang pohon-pohon di hutan, atau sekedar mengusik dedaunan hingga rontok dari dahannya. Mereka injak-injak rumput hijau dan memetik bunga-bunga hiasan alam untuk dinikmati sendiri atau dijadikan barang niaga. Manusia-manusia membangun gedung-gedung bertingkat, mengotori air, menukar cahaya rembulan dan kerlip bintang dengan lampu-lampu hiburan malam. Maka, sempurnalah juga segalanya. Yang demikian itu, Allah Yang Maha Agung tengah memberikan tanda-tanda bagi segenap insan. Bahwa kehidupan dunia dengan keindahan dan kenikmatannya hanya sesaat. Setiap kali manusia merasakan keindahan itu, setiap saat itu pula ada kehancuran. Setiap kali manisnya hidup begitu menghanyutkan, setiap saat itu juga kepahitan menguntit. Kenikmatan hidup yang kerap dirasakan manusia, terkadang pada saat yang bersamaan ianya mengundang kegetiran. Sungguh, Allah berikan kenikmatan di tengah-tengah kegetiran, kepahitan diujung manisnya hidup serta kehancuran setelah keindahan yang begitu sempurna.

Hanya saja, begitu banyak manusia yang tidak menyadari kebijakan Tuhannya itu. Tidak sedikit pula mereka yang enggan untuk tahu dan melihat kenyataan itu. Yang ingin dan akan selalu diingini manusia adalah bagaimana merasai hidup ini seperti yang tertampakkan oleh mata kepala mereka. Manusia, tak lagi menoleh kepada gambaran yang sesungguhnya dari mata bathin, dari mata hati.
Samakah, kenikmatan secolek makanan yang didapat para pengais rezeki dengan taruhan nyawa dan beratnya perjuangan serta derasnya peluh, dengan setangkup roti diatas meja berselai strawberry milik para tuan berpunya, dimana mereka mendapatkannya hanya dengan menjuringkan mata. Tentu, mereka yang tidak menggunakan mata hatinya, akan melihat setangkup roti itu jauh lebih nikmat.
Saat sebagian orang tertidur pulas berbantal dan berselimut kesederhanaan, diseberang mereka ada yang tak bisa tertidur meski berkasur ketercukupan yang empuk dan melegakan. Mereka gelisah, takut, dan khawatir orang-orang yang berkekurangan mendatangi rumah-rumah berpagar tinggi mereka dimalam hari untuk merampas kenikmatan mereka. Bisakah terlihat perbedaannya disana?
Ketika orang-orang harus berjalan dengan menoleh ke kanan, ke kiri, belakang dan depan mereka terpasung curiga yang terkadang tanpa alasan. Hanya karena mereka takut orang lain mengganggu kenyamanan dan keamanan mereka, mereka tercekam, meski mereka berada dalam kendaraan mewah. Sementara disisi mereka, ada orang-orang yang kerap kali terciprat kotoran dari kendaraan yang berlalu lalang, tetap tenang dengan wajah berseri berjalan dimuka bumi. Mereka, tak pernah memikirkan apa yang bakal terjadi pada dirinya, tak pernah terbersit ketakutan orang akan merampas kenikmatan yang memang tidak dimilikinya. Namun, bukankah kenyamanan dan ketenangan itu menjadi keindahan dan kenikmatan hidup tersendiri? Adakah perbedaan yang terlihat?
justru, seharusnya setiap menusia mengkhawatirkan saat-saat dirinya mau tidak mau, suka atau tidak, mesti meninggalkan keindahan dan kenikmatan dunia yang entah dimiliki atau tidak, yang entah ditumpuk-tumpuk atau dibagi-bagikan, yang entah bernilai dimata Allah atau tidak sama sekali. Justru, semestinya, manusia sejenak melupakan keindahan dan kenikmatan saat ini untuk sedetik saja membayangkan penderitaan saat sakaratul maut sambil mengira-ngira sakit macam apa yang diberikan-Nya saat itu. Ingatan ini, tentu bukan sentilan apalagi jeweran, ini hanya sentuhan kecil yang mencoba menyadarkan bahwa hidup tak selamanya indah, tapi juga hati-hati, agar kita tak menjadikan hidup ini selamanya tak indah. Wallahu a'lam
Cinta mungkin sebuah kata agung yang paling sering membuat seseorang tergugu di hadapannya. Segala teori dan argumentasi yang dilontarkan akan lumpuh begitu saja saat kita sendiri yang mengalami bagaimana hebatnya cinta itu mempengaruhi diri kita. Mungkin sulit dipahami bagi orang yang sedang tak
mencinta, bagaimana rasa cinta itu menjelma menjadi ratusan ribu pulsa telepon, berlimpahnya waktu untuk menunggu yang terkasih walau kita sedang dalam deadline ketat, terbuka lebarnya mata mengerjakan tugas-tugas demi membantu yang tersayang. Bongkahan pengorbanan yang tak rela dipecahkan?
Merasakan cinta seperti merasakan hangatnya matahari. Kita selalu merasa kehangatan itu akan terus menyirami diri. Setiap pagi menanti mentari, tak pernah terpikirkan akan turun hujan atau badai karena kita percaya semua itu pasti akan berlalu dan mentari akan kembali, menghangati ujung kaki dan tangan yang sedikit membeku. Mentari ada di sana, dan dia pasti setia.
Terkadang kita lupa, matahari yang hidup dan mengisi hidup itu adalah hamba dari Penguasa kehidupan, kehidupan kita, kehidupan matahari. Satu waktu matahari harus pergi, walau ia tak pernah meminta, walau pinta tak pernah kita ucapkan. Jadi, ia akan pergi, apapun yang terjadi. Karena ini adalah kehendak-Nya. Segala yang ada di dunia ini tidak pernah abadi, karenanya ia bisa pergi. Selamanya, bukan sementara. Inilah dunia. Senang atau tidak, kita hanya bisa terima.
Mungkin kita ingin protes, ingin teriak; betapa tak adilnya! Tapi kita cuma akan dijawab oleh tebing karang yang bisu, atau lolongan anjing dari kejauhan yang terdengar mengejek. Mungkin kita kecewa dan ingin mengakhiri hidup. Mungkin kita begitu ingin memukul, tapi cuma angin yang bisa dikenai. Sekarang coba dulu lihat, apakah itu mengubah apa pun? Tak ada yang berubah kecuali semakin dalamnya rasa sakit itu.
Maka ketika kuasa-Nya yang mutlak menjambak cinta sementara kita pada matahari, kita bisa apa? Karena kita cuma hamba, kita cuma budak! Kita hanya bisa menelan kepahitan yang kita ciptakan sendiri.

Mungkin yang perlu kita jawab; mengapa kita melabuhkan cinta begitu besarnya pada manusia? Padahal kita tahu tak ada yang abadi di dunia ini. Mengapa?
Allah menciptakan cinta di antara manusia. Dia yang paling hebat, paling tahu
bagaimana cinta itu, bagaimana mencintai, bagaimana dicintai. Kenapa kita begitu sok, merasa paling mencintai, merasa paling dicintai, merasa memiliki segalanya dengan cinta. Padahal cinta itu cuma dari manusia, untuk manusia. Dan suatu hari cinta itu akan hilang. Mungkin tak cuma pupus, tapi tak berbekas, tak berjejak.
Hanya cinta yang begitukah yang kita inginkan?
Kenapa kita tak mencoba raih matahari cintanya Allah, yang tak pernah tenggelam dan tak pernah sirna. Tak pernah usang, tak hancur, dan tak akan pernah sia-sia.
Mencintai Allah? Terlalu abstrak, terlalu aneh. Masa?? Itu karena kita tak
pernah merasa dekat, tak pernah berusaha mendekati-Nya. Allah menjadi asing
karena kita memposisikan Allah sebagai sesuatu yang berada di langit yang tinggi dan tak mungkinlah kita mencapainya. Jangankan mencintai, membayangkan untuk mendekatinya saja tak mungkin.
Tahukah kamu, Dia menawarkan cinta-Nya untuk kita. Hebat ?kan? Kita? Manusia yang hina dina yang berasal dari setetes sperma yang hina? Ditawarkan cinta dari pembuat cinta? Cck? ckk? Apa nggak salah, nih? Kemudian kita malah menolak dan menjauh? Wah? wah? betapa bodohnya ...
Kalau cinta seperti itu tertolak, cinta apa lagi yang kita harapkan? Cinta yang
membawa pada kekecewaan, rasa sakit, atau derita? Cinta yang hanya mekar semusim lalu luruh tak berbekas, bahkan wanginya. Percayalah? cinta yang ditawarkan-Nya tak pernah menguncup, mekar, atau luruh. cinta-Nya abadi, mekar selamanya. Dan Dia akan memberi kita cinta dari manusia. Mentari itu terus di sana, kapan dan di manapun kita ingin merasakan hangatnya. Kita punya cinta dari Allah.

Apakah kita tak berniat membalas ketulusan cinta itu?

lihatlah air

Tuangkan air ke dalam gelas, maka ia akan berbentuk menyerupair gelas. Jika air itu dimasukkan ke dalam bak, iapun akan mengikuti bentuk bak tersebut, entah bundar ataupun persegi. Segala bentuk, semua sudut yang ditawarkan, air selalu bisa mengisi, memenuhi dan tak pernah membiarkan sisi-sisi wadah tak tersentuh olehnya.
Namun air tetap air, meski harus berbentuk persegi atau bundar, tempat kecil atau besar, ia tetap berbentuk cair. Seperti air, dimanapun berada hendaknya kita bisa beradaptasi dengan lingkungan dan ketentuan yang berlaku. Tapi tidak berarti harus tenggelam dalam kungkungan dan batas-batas ketentuan yang tak normal, bukan juga larut bersama putaran kehidupan yang tak semestinya, apalagi hanyut terbawa arus gelombang realita yang seringkali menggiurkan namun menyesatkan. Seperti air, keberadaan manusia di muka bumi hendaknya bisa menyentuh setiap waktu, setiap tempat yang disinggahinya, bukan tanpa makna.
Air senantiasa bergerak, dimanapun ada celah dan ruang, sudut dan sisi ia pasti menemukan jalan. Air cenderung bergerak kebawah, dua hal yang menjadikannya keatas, oleh ajakan awan yang kemudian menjadikannya hujan dan akhirnya kembali jatuh ke bawah (bumi), dan satu lagi, oleh mesin buatan manusia untuk pelbagai keperluan, namun yang pasti ujungnya selalu ke bawah. Air yang berdiam diri, terjebak dalam kubangan tak berpembuangan, akan mengering, berwarna yang tak lagi bening dan akhirnya tak berguna sama sekali, bahkan bisa menjadi sumber penyakit akibat dihinggapi bermacam bakteri. Yang demikian, tak lagi bersih dan suci, hingga tak layak untuk segala keperluan manusia. Seperti air, tak pernah diam, selalu beranjak setiap saat, begitulah semestinya manusia. Ada dua manusia yang tak bergerak, malas atau mati. Mereka yang tak bergerak, berdiam diri dan tak melakukan aktifitas yang bermanfaat, maka tak ubahnya ia seperti makhluk tak bernyawa. Keberadaannya tak bedanya dengan ketiadaannya. Keberadaannya tak dirasa manfaatnya, ketiadaannya tak dirisaukan. Manusia yang tak memiliki aktifitas, tak bekerja dan menggunakan potensi dan kelebihannya, adalah manusia yang tak berguna. Seperti air, jikapun harus terus bergerak, hendaknya manusia tak pernah lupa bahwa ia punya tempat kembali. Manusia bermula dari bawah akan kembali jatuh ke bawah. Mengawali hidup tanpa apapun, juga tanpa apapun saat mengakhirinya. Kita berasal dari tanah akan kembali ke tanah.
Air tak pernah bisa dibendung, dan terbendung. Tertutup satu jalan di depan, ia akan berusaha mencari jalan lain dan terus mencari sampai jalan itu benar-benar didapatinya. Coba perhatikan, air tak pernah menyia-nyiakan lubang bocor di ember atau bak, ia akan mengalir dengan deras menuju kebebasan bergerak dan keberhasilan. Seperti air, tidak seharusnya manusia menyerah pasrah dan putus asa setiap kali membentur halangan dalam berupaya meraih cita-cita. Berpikir cepat, inovatif, kreatif mencari celah menuju cita-cita, harus menjadi bagian dari sifat diri. Dan satu hal lagi, jangan pernah mengabaikan sekecil apapun kesempatan yang terbuka untuk secepat kilat menerobosnya, karena bisa jadi, itu jalan satu-satunya meraih kesuksesan.
Saat panas menyengat, membuat tenggorokan terasa kering, airlah tumpuan kita untuk melepaskan dahaga. Tubuh yang kotor, oleh peluh dan debu, air menjadi satu harapan untuk bisa membersihkannya. Bahkan untuk menyegarkan diri, tentu air pula yang dicari, baik sekedar cuci muka, mandi ataupun berenang. Manusia tak pernah bisa membayangkan hidup tanpa air, seperti halnya manusia tak juga bisa membayangkan hidup tanpa bumi tempat berpijak. Seperti air, sebagai makhluk yang diciptakan dengan bentuk yang lebih sempurna ketimbang makhluk lainnya, seharusnya setiap kita memiliki sifat asertif, senantiasa hadir saat manusia lain membutuhkannya, selalu memberikan yang terbaik tanpa terlebih dulu diminta. Sehingga pada masanya, kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi seperti apapun, kita selalu dicari, dibutuhkan dan dipentingkan. Sungguh merugi manusia yang kehadirannya tak pernah diperhitungkan.
Air bisa dibuat panas mendidih hingga 100 derajat, bisa juga dibuat dingin dan membeku hingga titik dibawah nol. Namun air tetap bening tak berwarna, dalam keadaan panas atau beku. Ia tetap bernama air jika tetap bening tak berwarna, jika sudah berubah warna menjadi kuning atau merah, mungkin saja namanya sirup, jika ia hitam, hampir pasti orang menyebutkan kopi. Atau ketika berwarna kecoklatan, mungkin kehitaman, meski masih bernama air, tapi terdapat embel-embel, air kotor, air kali atau juga air got. Seperti air, panas atau dingin tetap melegakan, sebaiknya manusia, dalam keadaan apapun tetap bisa menyenangkan manusia lainnya. Sehingga manusia lain tetap betah bertetangga, hidup bersama dan berdekatan. Seperti air, untuk menjadi diri sendiri, setiap manusia harus mempertahankan warna fitrahnya. Fitrah manusia pada kesucian dan kebenaran, dan sudah barang tentu, manusia yang tak lagi pada fitrahnya itu mungkin saja tak layak lagi menyandang predikat manusia. Atau sekiranya masih berwujud manusia, namun hakikatnya tak lagi manusia. Misalnya, manusia yang mengambil barang orang lain, biasanya digelari maling, pencuri, copet, jambret atau lainnya. Manusia yang menggunakan harta perusahaan untuk kepentingan pribadi, orang mengenalnya sebagai koruptor. Manusia yang gila kekuasaan, sering dicap diktator. Bahkan ada manusia yang perilakunya seperti hewan, entah sebutan apa yang pantas untuk yang semacam ini. Dan masih banyak lagi sebutan-sebutan yang dilatar belakangi oleh perilaku manusia itu sendiri.
Air tak pernah menyatu dengan minyak. Kita semua tahu itu. Air dan minyak, bisa dijadikan simbol ketidakmungkinan dua zat berbeda untuk bersatu. Bisa juga sebagai simbol penolakan kebathilan oleh kebenaran. Seperi hitam dan putih yang tak pernah sama, jika dipadukan ia akan menjadi abu-abu. Seperti air, wajib menolak setiap hal yang bertentangan dengan kebenaran. Untuk diketahui, kita memiliki daya resistensi untuk menentang kebathilan yang sungguh-sungguh bukan fitrah manusia. Namun jika resistensi itu tak digunakan, bukan tidak mungkin banyak manusia yang menjadi abu-abu, alias munafik, terkadang terlihat seperti putih padahal ia hitam.
Maka, mengalirlah seperti air ....

kesaksian gocap

Kesaksian Gocap : Akhirnya Saya Ke Luar Dompet..
Kenalkan, nama saya Gocap, dari keluarga Uang. Dibandingkan kakak-kakak saya, Gopek, Goceng atau Goban, mungkin saya yang paling nggak ngetop. Meskipun saya dan Gopek sama-sama terbuat dari logam, tapi Gopek lebih beruntung. Dia masih punya versi dirinya yang berupa kertas. Beruntung? Ya, sebab, entah dengan proses bagaimana, manusia membuat sehelai kertas bernilai lebih mahal daripada logam. Setidaknya itu menurut mereka. Bagaimanapun, saya harus tetap percaya diri, kata teman saya si Dompet Sumpek.
Manusia memang aneh. Seperti juga pemilik saya yang terakhir. Dia mendapatkan diri saya, dan beberapa kembaran saya, dari beberapa toko swalayan. Lalu kami hanya disimpan di Dompet Sumpek berjejal bersama-sama Seceng, Gopek, Goceng.. Kalau kami beruntung, kami bisa sesekali berdekatan dengan lembaran Ceban, Noban bahkan Goban, lalu mencium wangi mereka, merasakan halus tubuh mereka. Tapi hanya sebentar. Pemilik saya tidak suka menyimpan uang pecahan besar di Dompet Sumpek. Dia punya Dompet Kulit yang ditaruh di bagian dalam tas. Mungkin untuk mempersulit pencopet yang pernah meraba tempat tinggal saya, tapi tak mendapat apa-apa.
Sebenarnya ada satu-dua Jigo di Dompet Sumpek, tempat saya tinggal. Nah, mereka bernasib lebih apes. Bukan hanya tidak akan pernah dikeluarkan dari situ. Bisa jadi begitu keluar, mereka hanya akan masuk tong sampah. Atau tergeletak tanpa ada yang memerhatikan selamanya. Sebagai Gocap, saya bersyukur, pemilik saya yang aneh masih memberi saya harapan. Sesekali saya melihat kembaran saya diberikan pada kasir toko tempat kami dikeluarkan. Yah, perjalanan kami hanya di situ-situ saja, makanya kami kuper. Kami tidak akan berakhir di sebuah restoran, angkot, bioskop... Bahkan pemilik warung rokok bakal menganga jika menerima kami.
Tapi, pagi ini akhirnya hidup saya berubah. Setelah berbulan-bulan mendekam di Dompet Sumpek, akhirnya saya bisa melihat dunia luar yang penuh warna! Ramai pula, karena saya berpindah tangan ke seorang petugas DLLAJR Terminal Bus Bogor. Sesaat saya melihat pemilik saya cemberut. Saya tahu, dia tidak pernah membayar pungutan di terminal bus yang menurutnya tidak jelas itu. Sodoran karcis (retribusi?) selalu dibalasnya dengan gelengan kepala atau lambaian tangan. Herannya, para petugas itu tidak pernah mendesak penumpang yang tidak mau bayar. Seakan memaklumi keraguan atau keengganan para penumpang. Memang sih, cuma 200 perak, tapi sepertinya pemilik saya, dan sejumlah penumpang lain, meragukan kegunaan pembayaran pungutan itu. Untuk apa?
Pagi ini, berkat ketatnya barisan petugas DLLAJR di terminal, ditambah hiruk pikuk himbauan lewat megafon, saya si Gocap, dan tiga rekan saya, bisa melihat dunia luar. Sempat saya lihat senyum kemenangan pemilik saya ketika menyerahkan kami berempat ke tangan petugas yang acuh tak acuh menerima kami. Tidak ada protes, tidak ada keluhan, bahkan kami berempat tak sempat bertangis-tangisan saat berpisah dengan Dompet Sumpek. Kalaupun petugas itu protes, mungkin pemilik saya akan bilang, "Ini pungutan diatur oleh pemerintah, gocapan juga dikeluarkan oleh pemerintah. Masak pemerintah sendiri nggak mau mengakui gocap sebagai alat pembayaran sah?"

Kamis, 09 April 2009

hanya doa yang dapat aku berikan untuk kamu...
ketika lelah selalu membuatku terjaga
dan harapan selalu membuatku percaya
bahwa ini yang terbaik untuk kita
jalan ini memang terlihat mendaki,
dan aku tak akan memaksamu bila memang kamu tak sanggup melaluinya....
cukup.. tunggu aq disini, sampai aku kembali untuk menceritakan betapa indahnya pemandangan diatas sana.
tapi maafkan aq, jangan pernah kamu berfikir bahwa aku meninggalkanmu., karena aq sudah mengajakmu turut serta....
melihat pemandangan yang indah diatas jalan yang terjal ini.
terbanglah wahai burung meski kamu bersayap sebelah...
percayakan pada Tuhan tentang apa yang harus kau lakukan,
dan nanti bila sayapmu tak sanggup untuk mengangkat beban tubuhmu....
tersenyumlah dan terima semuanya dengan ketabahan
setidaknya kamu telah mencoba, dan kegagalan itu akan membuat kakimu menjadi kuat untuk terus berjalan menggantikan sayapmu yang tak mungkin untuk terbang.
amor omnia vincit (cnta mngalahkn sgala'a)

mi queria. Mi cielo. Pero hasta ahora lejos.. Mo pueden ser el mios (sygqw. Lngtqw. Tp bgtw jauh.. Taq dpt qw miliki)

estoy pensando siempre de usted,de nosotros. Te quiero. Me pierden en usted (qw sllu mmikrknmu,mmkirkn qta. Aq mnginginknmu. Ingin trhnyt ddlmmu)

amor es esperanza (cinta adalah harapan)

la paciencia es algo digno de todo (ksbarn adlh s'suatu yg sgd b'nilai)

un destino precioso gue debes luchar para (tkdir taq b'nilai yg hrs kau prjuangkn)

mi querida. Por siempre (syngqw. Slama'a)

no vaya (jgn prgi)
aku akan tetap disini....
tapi bukan menunggumu,
sebab langkahku yang sederhana
tak memerlukan jalanmu yang berliku
dan malamuku yang temaram
tak membutuhkan cahay seterang dirimu

hidup kita benar-benar berbeda....
kita akan berjalan jauh menempuh hidup
tapi tak akan pernah bertemu, disuatu tempat, dimanapun.....
Pernahkah kau berkelana dalam kesepian.
Hanya sendiri d temani kesunyian...
Itulah yg sering aku alami..., bhkan hingga sekarang...
Maukah kau mndngar ceritany??
Ataukah kau ingin menambah kesepian aku utk kesekian kalinya...Ì??
Pernahkah kamu merasakan,
bahwa kamu mencintai seseorang,
meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan
meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas,
tapi kamu tetap mencintainya,

Pernahkah kamu merasakan,
bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai,
meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun
ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.

Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta,
tersenyum kala terluka,
menangis kala bahagia,
bersedih kala bersama,
tertawa kala berpisah,

Aku pernah .........

Aku pernah tersenyum meski kuterluka !
karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku,
Aku pernah menangis kala bahagia,
karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja,

Aku pernah bersedih kala bersamanya,
karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan......

Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya,
karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan
Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.
waktuku mungkin tak banyak untuk mengenal kamu,
waktuku mungkin tak lama untuk mengerti kamu,
waktuku mungkin tak panjang untuk mencintai kamu,...

aku juga tak tahu apakah waktuku masih cukup untuk memahami dan menunggumu,,...