Inilah kehidupan dimana semua ceritanya dapat kita bagi dengan untaian kata.
Minggu, 26 Oktober 2008
dia tidak minta bayaran, tapi menciptakan banyak.
dia memperkaya mereka yg menerimanya.
tanpa membuat melarat mereka yg memberinya.
dia hanya terjagi sekejap,namun…….
kenangan tentangnya kadang2bertahan lama.
tak seorangpun meskipun begitu kaya
mampu bertahan tanpa dia.dan…….
tak seorangpun yg begitu miskin,tetapi
menjadi kaya karena manfaatnya.
dia menciptakan kebahagiaan untuk orang lain.
dia memberi rasa dalam letih,sinar terang dlm keputusasaan.sinar mentari dari kesedihan dan penangkal bagi kesulitan dalam hidup.
namun dia tidak bisa dibeli,dipinjam atau dicuri.
karena dia adalah sesuatu yg tidak berguna,sebelum diberikan kepada orang
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu.
pelabuhan tenang yang mau menerima.
kehadiran kapalmu!
Kalau dulu memang pernah ada.
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.
tak memiliki warna dibalik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan
warna lain untuk berbagai keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan,
terik ataupun badai yang datang ia tetap putih. Kemanapun dan dimanapun
ditemukan, melati selalu putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang
asri. Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya. Pada
angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya
tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin
menerpa. Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut. Namun ia tetap teguh pada
pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera
kembali pada tangkainya.
Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara
ribuan air yang menghujani tubuhnya. Agar siapapun tak pernah melihatnya
bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air
dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia
senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau
memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis
sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan
setiap kegetiran. Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati
terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati
keteduhan, dengan airnya yang sejuk.
Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk
erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya,
menserikan alam. Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia dengan sabar
dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan
kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah
kasih sayang tanpa cobaan?
Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan
hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih.
Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus
meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi
putih?
Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak
ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena
masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati iri menjadi
mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir
melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua
fungsinya sebagai putih.
Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan
sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh
yang telah beku oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias
hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar
di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang
penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu
hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.
Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan
setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghiasharumi semua taman yang
disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama
cinta dan keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya
tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang
putih. Yang tetap berseri disemua suasana alam.
Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak
segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya,
yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya.
Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan
dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya.
Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya,
tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanya
mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya.
Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati,
seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati.
Dan kepada melatiku, tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, aku akan
menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari, menjadi
daun dan alam semesta. Tetapi takkan pernah menjadi debu atau unggas yang
hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja.
Mutiara dan Pasir
Kemudian orang tua tersebut minta sang pemuda melihat apa yg dilakukannya, orang tua tersebut membungkuk mengambil segenggam pasir dan kemudian melemparkannya kembali kebawah, seketika pasir tersebut melebur dan menjadi satu dengan pasir lainnya yang ada dibawah, lalu kata orang tua tersebut kepada si pemuda “cobalah kamu ambil pasir yang tadi saya lemparkan ke bawah”, dan si pemuda keheranan dan berkata “mana mungkin saya dapat mengambil pasir tersebut karena pasir tersebut telah berbaur dan menjadi satu dengan pasir lainnya”, si orang tua tersebut tersenyum dan kemudian mengambil sebutir mutiara dari dalam kantongnya dan melemparkannya kebawah seraya berkata kepada pemuda tersbut “ambillah mutiara tersebut” , dan dengan mudahnya pemuda tersebut mengambilnya.
Orang tua tersebut berkata kepada pemuda tersebut bahwa untuk menjadi atau meraih apa yang kamu inginkan maka kamu harus berbeda denga orang lain, jikalau kamu sama dengan orang kebanyakan maka kamu tidak akan terlihat, demikian juga ketika kamu mencari kerja dan sebagainya.
Note :
Bila kita lemah terhadap diri kita maka kehidupan akan keras terhadap kita
Bila kita keras terhadap diri kita maka kehidupan akan lemah terhadap kita
Sepasang Burung Dgn Sebelah Sayap
Tadinya, saya fikir ia mencari penghasilan yang lebih tinggi. Setelah mendengarkan dengan penuh empati, rekan ini rupanya mengalami kesulitan dengan lingkungan kerja. Di semua tempat kerja sebelumnya, dia selalu bertemu dengan orang yang tidak cocok. Di sini tidak cocok dengan atasan, di situ bentrok dengan rekan sejawat, di tempat lain malah diprotes bawahan.
Kalau rekan di atas berhobi pindah-pindah kerja, seorang sahabat saya yang lain punya pengalaman yang lain lagi. Setelah berganti istri sejumlah tiga kali, dengan berbagai alasan yang berbau tidak cocok, ia kemudian merasa capek dengan kegiatan berganti-ganti pasangan ini. Seorang pengusaha berhasil punya pengalaman lain lagi. Setiap kali menerima orang baru sebagai pimpinan puncak, ia senantiasa semangat dan penuh optimis. Seolah-olah orang baru yang datang pasti bisa menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi, begitu orang baru ini berumur kerja lebih dari satu tahun, maka mulailah kelihatan busuk-busuknya.
Dan iapun mulai capek dengan kegiatan berganti-ganti pimpinan puncak ini. Digabung menjadi satu, seluruh cerita ini menunjukkan bahwa kalau motif kita mencari pasangan ? entah pasangan hidup maupun pasangan kerja ? adalah mencari orang yang cocok di semua bidang, sebaiknya dilupakan saja.
Bercermin dari semua inilah, maka sering kali saya ungkapkan di depan lebih dari ratusan forum, bahwa fundamen paling dasar dari manajemen sumber daya manusia adalah manajemen perbedaan. Yang mencakup dua hal mendasar: menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan.
Sayangnya, kendati idenya sederhana, namun implementasinya memerlukan upaya yang tidak kecil. Ini bisa terjadi, karena tidak sedikit dari kita yang menganggap diri seperti burung yang bersayap lengkap. Bisa terbang (baca : hidup dan bekerja ) sendiri tanpa ketergantungan pada orang lain. Padahal, meminjam apa yang pernah ditulis Luciano de Crescendo, kita semua sebenarnya lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah. Dan hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat bersama orang lain.
Anda boleh berpendapat lain, namun pengalaman, pergaulan dan bacaan saya menunjukkan dukungan yang amat kuat terhadap pengandaian burung bersayap sebelah terakhir. Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu
pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Di keluarga, tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan sengaja untuk ?berpelukan? dengan anggota keluarga yang lain. Di tingkat pemimpin negara, orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau berpelukan bersama orang yang dulu pernah menyiksanya.
Lebih-lebih kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuh cinta. Ia tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat semuanya tampak indah dan menyenangkan. Makanya, penulis buku Chicken Soup For The Couple Soul mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar. Demikian besarnya makna dan dampak cinta, sampai-sampai ia tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mengenal cinta.
Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di puncak gunung. Capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia.
Ini semua, mendidik saya untuk hidup dengan pelukan cinta. Di pagi hari ketika baru bangun dan membuka jendela, saya senantiasa berterimakasih akan pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa saya peluk. Entah itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang rajin menonton film kartun.
Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri. Melihat burung gereja yang memakan nasi yang sengaja diletakkan di pinggir kali, juga menghasilkan pelukan cinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi,
egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang. Namun, begitu saya ingat karyawan dan karyawati bawah yang bekerja penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta entah datang dari mana.
Kembali ke pengandaian awal tentang burung dengan sebelah sayap, Tuhan memang tidak pernah melahirkan manusia yang sempurna. Kita selalu lebih di sini dan kurang di situ. Atau sebaliknya. Kesombongan atau keyakinan berlebihan yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung yang bersayap sebelah, namun memaksa diri untuk terbang.
Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap. Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat apapun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang
hanya sebelah. Oleh karena alasan inilah, saya selalu ingat pesan seorang rekan untuk memulai kehidupan setiap hari dengan pelukan. Entah itu memeluk anak, memeluk istri, memeluk kehidupan, memeluk alam semesta, memeluk Tuhan atau di kantor memulai kerja dengan ?memeluk? orang lain.
menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi
yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran
yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia
tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang
dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan
gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan
berpaling dari kebenaran.
Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan
tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika
anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya.
Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena
dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya
dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.
Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati
dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa
dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika
ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari
oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis).
Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang
Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu
ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca
Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri
menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga
beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang
menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah
Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran
keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada
derajat hamba Allah yang peka.
Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan
pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang
berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata?
Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati
seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya
justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri
di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian
dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus
diembannya di dunia ini.
Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan
senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan
jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran
umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat
menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak
akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika
tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan
fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan
segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan
tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.
Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan
apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad),
kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al
Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya
berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama
orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian
Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83). Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan
surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak.
Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja
Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia
telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya
sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar
merasakannya.
Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat
Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan
tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk
penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada
Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak
peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti,
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka
yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang
penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’: 145)
Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah
disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam
terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau
tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat
Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk
serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak
menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di
dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai
pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82).
Jadi apa salahnya menangis?.
Jika....
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil Ikan itu…..
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia lagi ke dalam air begitu saja….
Karena ia akan sakit oleh karena bisa ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.
Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang… .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya…..
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja……
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingatnya…..
Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh……cukuplah sekadar keperluanmu. ……
Apabila sekali ia retak tentu sukar untuk kamu menambalnya semula……
Akhirnya ia dibuang…...
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi…..
Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya…. .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya Begitu istimewa…. .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. Akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus Hingga ke akhirnya….
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang pasti baik untuk dirimu, Mengenyangkan, Berkhasiat, Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain….
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan menyesal.
Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan yang membawa kebaikan kepada dirimu, Menyayangimu, Mengasihimu, Mengapa kamu berlengah, coba membandingkannya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang Lain kamu juga akan menyesal
Dan tidak juga keluar dari cinta
Tapi manusia tumbuh dan besar dalam cinta
Cinta dibanyak waktu dan peristiwa
Orang selalu berbeda mengartikannya
Tak ada yang salah tapi
Tak ada yang benar sempurna penafsirannya
Karena cinta selalu berkembang
Ia seperti udara yang mengisi ruang kosong
Cinta juga seperti air
Yang mengalir kedataran yang lebih rendah
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama
Bahwa cinta akan membuat kita berbuat lebih sempurna
Cinta akan membawa sesuatu menjadi lebih baik
Mengajarkan pada kita
Betapa besar kekuatan yang dimilikinya
Paling tidak cinta membuat dunia
Yang bising dan penat ini terasa indah
Cinta mengajarkan pada kita
Bagaimana harus berlaku jujur dan berkorban
Berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan
Cinta adalah kaki-kaki
Yang melangkah membangun samudera kebaikan
Cinta adalah tangan-tangan
Yang merajut hamparan permadani kasih sayang
Cinta adalah hati yang selalu berharap
Mewujudkan dunia serta kehidupan menjadi lebih baik
berbahagialah yg pernah mendapatkannya meskipun tidak abadi
Cinta tidak membuat dunia berputar
Cinta inilah yang membuat perjalanan tersebut berharga
Cinta tidak berupa tatapan satu sama lain,
tetapi memandang ke luar bersama ke arah yang sama.
Bel bukanlah bel sebelum engkau membunyikannya
Lagu bukanlah lagu sebelum engkau menyanyikannya
Cinta di dalam hatimu tidak diletakkan untuk tinggal di sana
Cinta bukanlah cinta sebelum engkau memberikannya
Nafsu adalah emosi
Cinta adalah pilihan
Cara untuk mencintai sesuatu adalah dengan menyadari
Bahwa sesuatu itu mungkin hilang
Cinta adalah kunci induk yang membuka Gerbang kebahagiaan
Kekasih yang bijaksana tidak menghargai hadiah dari kekasihnya
Sebesar cinta dari si pemberi
Jika anda ingin dicinta, mencintalah
dan jadilah orang yang pantas dicinta
Di antara mereka yang saya sukai atau kagumi,
saya tidak dapat menemukan suatu kesamaan
Tetapi di antara mereka yang saya kasihi,
saya dapat menemukannya: mereka semua membuat saya tertawa
Persahabatan sering berakhir dengan cinta
Tetapi cinta tidak pernah berakhir dengan persahabatan
Kita harus sedikit menyerupai satu sama lain
untuk mengerti satu sama lain
Tetapi kita harus sedikit berbeda
Untuk mencintai satu sama lain
Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"
Cinta memasukkan kesenangan dalam kebersamaan
kesedihan dalam perpisahan
harapan pada hari esok
kegembiraan di dalam hati
Siapa pun yang mempunyai hati penuh cinta
selalu mempunyai sesuatu untuk diberikan
Cinta sejati dimulai ketika tidak sesuatu pun
diharapkan sebagai balasan
Segera sesudah kita belajar mencinta
Kita akan belajar untuk hidup
Cinta...
Jika anda memilikinya, anda tidak memerlukan sesuatu pun yang lain
Dan jika anda tidak memilikinya,
apa pun yang lain yang anda miliki tidak banyak berarti
Cinta tidak dapat dipaksakan
Cinta tidak dapat dibujuk dan digoda
Cinta muncul dari Surga tanpa topeng dan tanpa dicari
Cobalah bernalar tentang cinta
dan engkau pun akan kehilangan nalarmu
Jumat, 24 Oktober 2008
meninggalkan daratan yang penuh dengan kemunafikan.
dimana hanya luka dan dusta para penghuninya
aku ingin tenggelam kedalam palung lautan....
damai di sana ditemani kesunyian yang menenangkan
meninggalkan daratan yang penuh dengan kemunafikan.
aku ingin waktuku segera tiba....
lelah aku menanggung semuanya,....
tak sanggup aku menahan luka ini....
aku lelah....
aku terluka....
dan kali ini aku benar-benar tak sanggup......
ada satu penghuni baru yang telah mengisinya.
dan kini aku bisa membawa semuanya,
ketempat tujuan mereka.... yaitu kebahagiaan mereka.
dan sesudah itu aku akan mencari kenangan baru,...
untuk menghuni tas kenanganku yang lain.....
karena aku sadar.....
hidupku hanyalah sebatas kenangan
yang hilang dan terlupakan
ketika kata yang kamu ucapkan
hanya semu,
ketika tulisan yang kamu berikan
hanya untaian huruf yang ternyata tak bermakna
aku terluka.....
ketika kenyataan yang kamu berikan
hanyalah mimpi,
ketika manis yang kamu berikan
ternyata berakhir pahit
aku terluka.....
ketika ada mata yang memandang aku
aku hempaskan dengan ketidakpastian,
ketika harapan yang ada padaku
kuberikan dengan tulus untukmu
aku terluka.....
ketika aku berharap kamu
tak akan melukaiku......
Selasa, 21 Oktober 2008
Sabtu, 18 Oktober 2008
Inilah yang mereka lalkukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati.
Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.
Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.
Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini ? O, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.
Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda ? Ayo cepat ! Dasar lelet! Bego banget sih. Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan? Jangan main-main disini! Berisik ! Bising !
Atau, pernahkah Anda berteriak kepada orang tua Anda karena merasa mereka membuat Anda jengkel ? Kenapa sih makan aja berceceran ? Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu? Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar ? Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak? Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati? Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak! Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa ! Aduh. Perempuan kampungan banget sih !?
Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya? E, tolol. Soal mudah begitu aja nggak bisa. Kapan kamu jadi pinter? Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesel? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel. Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?
Ingatlah ! Setiapkali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini.
Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.
Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan? Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begituuuu jauhnya. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak !
Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.
Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.
Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda inginsegera membunuh roh pada orang lain ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak.
Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.
Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.
Sumber: Anonymous
Teringat kali terakhir pulang kampung, terlebih dahulu saya menelepon, seluruh sanak keluarga menyambutnya gembira. Ketika saya berada di dalam mobil, seperti halnya dalam ingatan saya waktu itu, perasaan di dalam hati ini ada sedikit ketidak sabaran, dan di dalam ketidak sabaran itu ada rasa bahagia. Setelah sekian lama berpisah, setiap orang pasti mendambakan untuk pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga.
Sore itu, ketika kereta api perlahan – lahan memasuki stasiun, dari jendela kereta saya sudah melihat ayah dan adik laki–laki dan perempuan saya dari kejauhan, mereka berdiri di pintu keluar stasiun dan memandang ke arah kereta yang sedang memasuki stasiun. Setelah ayah dapat menemukan saya, dengan riang beliau membantu membawakan tas saya.
Sebenarnya saya sudah sedemikian dewasa, bukan lagi seorang anak kecil, lagi pula tas itu juga tidak berat. Tapi melihat ayah sedemikian gembiranya, maka saya pun masih berkelakuan seperti saat saya masih kecil, menyerahkan tas itu dengan patuh kepadanya. Tapi adik laki – laki saya segera merampas tas itu. Seketika itu juga ayah tertawa terbahak – bahak.
Adik lelaki saya sudah lebih tinggi dibanding ketika saya pergi meninggalkan mereka tahun lalu, adik perempuan saya juga sudah semakin dewasa dan cantik. Dalam perjalanan ke rumah, kami berbincang dengan riang gembira.
Setelah melewati suatu belokan yang berjarak hanya 100 meter dari rumah kami, saya sudah melihat ibu sedang berdiri di depan pintu, sedang memandang ke arah kami.
Begitu tiba di rumah, kakak tertua dan istri, serta kakak kedua dan istrinya juga, keluar menyambut kedatangan kami, bersama dengan dua orang kemenakan saya sambil bersenda gurau.
Ibu turun tangan sendiri memasak air, menyeduh sepoci teh. Lalu duduk di samping saya sambil memandangiku dengan cermat, membuat saya merasa risih.
Ipar tertua dan kedua saya sedang memasak di dapur, saya tidak tahu apa saja yang mereka perbincangkan, hanya suara ha… ha… ha… yang terdengar tiada henti. Kakak pertama dan kedua sedang duduk bersama bermain catur militer (Jun Qi). Sejak kecil mereka berdua sudah tergila – gila bermain Jun Qi, teknik permainan mereka sangat bagus, kekuatan mereka berdua juga hampir seimbang.
Tapi jika berbicara mengenai catur Tiongkok (Xiang Qi), mereka berdua sangat lemah. Ayah sering menertawai mereka berdua sebagai si Buta Catur.
Ayah lalu mengeluarkan seperangkat Xiang Qi dengan wajah berseri, mengajak saya bermain catur dengannya.
Bicara soal Xiang Qi, saya bisa bermain Xiang Qi berkat diajari oleh ibu. Soal teknik bermain Xiang Qi ibu memang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, ibu hanya dapat menjalankannya saja.
Lain halnya dengan ayah, beliau adalah jago Xiang Qi di dalam keluarga kami.
Sewaktu kecil, sayalah yang paling tak berguna. Sering kali menangis jika kalah bermain catur. Sewaktu ayah mulai mengajak saya bermain catur, beliau mengalah dengan tidak memainkan benteng, kuda dan gajahnya.
Walaupun demikian, ditambah dengan bantuan orang lain pun, saya selalu saja kalah, tidak pernah menang. Seiring dengan pertumbuhan saya, teknik bermain catur saya pun semakin tangguh. Sewaktu bermain dengan ayah, beliau mulai mengurangi bobot mengalahnya, hanya mengalah benteng dan kuda, atau benteng dan gajah. Lama kelamaan hanya mengalah satu benteng saja, atau hanya mengalah kuda atau gajah.
Hingga berumur 16 tahun, saya sudah bermain setara tanpa ayah harus mengalah. Walaupun saya lebih sering kalah, tetapi yang penting ayah sudah tidak perlu mengalah lagi. Saat berusia 18 tahun, teknik permainan catur saya sudah tak kalah dari ayah. Bahkan acap kali saat bermain catur, pasukan ayah saya babat hingga porak poranda.
Teringat suatu saat ketika kami sedang bermain catur, karena perhitungannya kurang cermat, beliau baru menyadari kesalahannya kemudian, namun semua sudah terlambat. Saat itu beliau hendak membatalkan permainan caturnya. Sebelumnya ayah tidak pernah membatalkan langkah dalam permainan caturnya, tapi ketika itu mungkin beliau merasa tidak dapat menerima kekalahannya itu sehingga bersikeras hendak membatalkan langkahnya itu.
Waktu itu timbul kenakalan saya untuk tidak membiarkan ayah membatalkan langkahnya. Saya masih teringat jelas, ayah sangat marah sambil berdiri dan berkata, “Percuma saja ayah membesarkanmu hingga dewasa, masa membatalkan langkah catur saja tidak boleh.”
Sejak saat itu ayah jarang sekali bermain catur dengan saya.
Hari ini, ayah terlihat dengan antusiasnya, mengubah sebuah meja kecil menjadi ajang pertempuran catur. Segenap anggota keluarga mengelilingi kami berdua, menyaksikan siapa yang lebih unggul.
Sama seperti dulu, saya memilih bidak merah dan mendapat giliran pertama.
Setelah lebih 10 menit bermain, saya melihat ayah sedang mengamati catur, sambil tangan ayah merogoh ke dalam sakunya mencari rokok, seperti kebiasaannya dulu.
Dulu, jika di dalam permainan catur ayah menjumpai musuh yang berat, konsentrasinya akan termanifestasi dengan merokok. Sebatang rokok akan menggantung di pinggir bibirnya, dihisapnya dalam dalam, lalu dibiarkannya asap rokok mengepul ke atas. Ayah sendiri yang berada di belakang kepulan asap itu seolah menembus kabut rokok memikirkan situasi di atas papan catur, memikirkan langkah berikutnya dengan serius.
Saya menggunakan isyarat mata dengan adik lelaki saya, seketika dia segera menuangkan secangkir teh hangat, lalu meletakkannya di hadapan ayah. Mendadak ayah baru teringat kalau sudah lama berhenti merokok, dengan sedikit linglung ayah tertawa pada kami, namun matanya terus mengamati papan catur, melanjutkan langkah berikutnya.
Melalui kaca mata rabun saya, terlihat rambut putih di kepala ayah lebih banyak dari pada tahun lalu, kulitnya juga semakin keriput. Melihat rona wajahnya yang demikian serius memandangi papan catur, mendadak saya merasakan dorongan hati hendak menangis.
Saya putuskan untuk membiarkan ayah menang, membiarkan ayah menang demi kepuasan hatinya. Sejak usia 18 tahun, ayah jarang sekali mendapat kesempatan menang dari saya.
Saya ingin membiarkan ayah menang, tapi tidak boleh sampai membuat ayah menyadarinya. Karena bagaimana pun juga ayah termasuk pemain ulung. Maka dari itu, kali ini merupakan permainan tersulit bagi saya, hingga pada akhirnya saya mendorong papan catur dan menyatakan diri kalah.
Bukan main girangnya ayah, matanya nampak tinggal segaris karena tertawa senang, persis seperti anak kecil memenangkan permainan catur dengan teman sebayanya, gembira bukan kepalang. Ada suatu kehangatan yang telah lama tidak pernah saya peroleh, membuat saya ada sedikit lepas kontrol. Lalu saya duduk di hadapannya, sambil minum teh, menemaninya tertawa.
Saya masih ingat, malam itu setelah selesai makan malam, kami sekeluarga berkumpul mengobrol bersama. Ayah bersandar di pinggir jendela, memandang pohon bambu di luar sana. Hari itu, ayah benar – benar sangat bahagia.
Ibu berkata pada ayah, “Suamiku, selama ini saya mengira bahwa engkau telah tua. Tapi hari ini begitu melihat dirimu bermain catur dengan anakmu, sepertinya engkau masih belum tua.”
Ayah tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Dia mengalah kepadaku, kamu kira aku tidak tahu?! Anak sudah dewasa, sudah berakal budi, sudah memahami bagaimana membuat sang ayah yang sudah tua ini gembira.”
Ternyata ayah tahu bahwa saya sengaja mengalah padanya. Tapi saya segera tertawa terkekeh dan berkata, “Aduh, ayah… Saya kalah ya sudah kalah, saya kalah dengan tulus hati. Kehebatan ayah masih tak kalah dibanding waktu ayah muda dulu.”
Dengan wajah keriputnya ayah memandangi saya dengan gembira, kehangatan semacam itu, sampai kapan pun tidak akan pernah saya lupakan. Kebahagiaan mungkin memang sangat sederhana, sama sederhananya dengan niat saya untuk mengalah dalam permainan catur.
Sekarang ini saya sering berpikir, entah kapan lagi saya bisa pulang ke kampung halaman dan bermain catur dengan ayah lagi. Masih ingin rasanya saya mengalah, agar ayah dapat menang dengan gembira. (Yuan Daima/The Epoch Times/lin)
Jumat, 17 Oktober 2008
Sebenarnya perkataan ini mudah diucapkan tapi tidak untuk melaksanakannya. Khususnya di dalam lingkungan masyarakat sekarang ini, banyak sekali konsep buruk yang meracuni cara berpikir manusia. Sehingga memikirkan orang lain menjadi sangat tidak mudah! Mari kita lihat dua kisah cerita di bawah ini.
Cerita Seorang Dokter Muda
Ada seorang dokter yang masih muda, ia membuka praktek sendiri. Ia sangat baik tapi kurang mahir dalam mengobati orang sakit. Oleh karena itu pasien yang datang untuk berobat kepadanya tidaklah begitu banyak.
Sang dokter juga sangat mementingkan nama baik dan reputasi dirinya. Demi reputasinya agar semua orang mau berobat padanya, ia sering menggunakan obat-obatan yang mahal dengan mengenakan bayaran yang murah kepada fakir miskin yang berobat padanya, sehingga dengan demikian ia pun mendapat nama baik.
Suatu hari, si dokter sedang gelisah, sudah menganggur seharian karena tak banyak pasien yang datang. Lalu datanglah seorang ibu membawa anaknya untuk berobat, anak itu kelihatannya sangat kurus dan lemah, tak bersemangat. Kedatangan pasien ini membuat si dokter sangat gembira, setelah memeriksa anak kecil itu, ia pun berkata pada si ibu, ”Tubuh anak ibu ini sangat lemah, saya masih memiliki ginseng gunung yang sangat bagus jika dicampur dengan obat – obatan lain untuk merawat tubuhnya, anak ibu pasti akan segera sembuh!”
Sang ibu berkata, ”Kami adalah orang miskin, tidak mampu membeli obat-obatan yang demikian mahal!”
Dokter itu berkata, ”Saya hanya akan menerima setengah harga saja dari ibu, asalkan anak ibu bisa segera sembuh itu sudah cukup bagi saya.” Lalu dokter pun memberikan anak itu obat untuk dosis pemakaian selama setengah bulan. Ibu dan anak itu pun pulang ke rumah dengan riang gembira.
Sebenarnya anak itu hanya menderita ketidakselarasan limpa dan maag akibat panas dalam yang berkepanjangan, yang telah mempengaruhi selera makannya menjadi menurun sehingga menyebabkan tubuhnya tampak lemah. Yang dibutuhkannya hanya obat untuk membersihkan panas dalam, lalu menggunakan dua atau tiga resep untuk kembali membangkitkan selera makannya, itu sudah cukup.
Tapi dokter ini telah menggunakan obat yang berlebihan... Terbukti benar, setelah minum obat dari sang dokter, anak itu bukan saja tidak sembuh dari penyakitnya tetapi justru semakin tidak bisa makan dan minum, hidungnya terus mengeluarkan darah. Ibunya terpaksa membawanya ke dokter lain untuk didiagnosa kembali, dan akhirnya anak itu baru dapat disembuhkan.
Kisah Seorang Profesor
Ada seorang profesor di sebuah perguruan tinggi yang tenama, karena sibuk meniti karir sang profesor baru mendapatkan seorang anak di usianya yang ke-40. Anak sang profesor sangat lucu dan juga cerdas, dalam hati sang profesor berpikir bahwa kelak ia akan membina anaknya menjadi seorang ilmuwan yang lebih unggul dari pada dirinya. Sejak anaknya berusia 5 tahun ia pun mulai memberikan sang anak berbagai macam pe-lajaran, terutama pelajaran-pelajaran di perguruan tinggi seperti matematika, kimia, dan fisika.
Mula-mula anak itu terlihat sangat berminat, seperti mendengarkan suatu cerita. Tapi jika diminta untuk belajar sungguh-sungguh, anak itu tidak pernah mau, lama kelamaan sang anak pun tak senang lagi mendengar ajaran profesor.
Tapi sang profesor tidak mau menyerah begitu saja, demikianlah anak itu berangsur-angsur tumbuh menjadi anak remaja, yang semakin lama semakin jengkel mendengarkan ajaran ayahnya itu. Mulanya ia hanya menangis kemudian ia pun mulai membolos. Profesor itu menjadi murka, di dalam hatinya ia berpikir bahwa semua yang diajarkannya itu adalah ilmu murni! Orang lain bahkan tidak mungkin mendapatkannya! Ia pun mulai memukuli sang anak untuk memaksanya belajar.
Bertahun-tahun kemudian, anak itu pun tumbuh dewasa, tapi rapor sekolahnya sangat jelek, anak itu benci sekali belajar, hampir setiap kali melihat buku ia akan merasa sakit kepala. Sang profesor masih saja tidak mau menyerah, setiap malam ia terus memberikan pelajaran pada anaknya, bercerita tentang kemajuan teknologi terbaru. Hingga akhirnya pada suatu hari, anaknya pergi ke sekolah dan tidak pernah pulang ke rumahnya lagi, ia meninggalkan rumah itu dan pergi jauh...
Seorang dokter yang tahunya hanya menggunakan obat yang baik tapi tidak memahami bahwa memberi obat pun harus sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Tidak peduli apakah obat yang digunakan itu murah atau pun mahal, hanya dengan penggunaan obat yang sesuai, suatu penyakit baru dapat disembuhkan. Si dokter tidak mengerti akan prinsip penerapan obat yang tepat.
Meskipun dokter ini telah mengenakan biaya murah saat ia mengobati penyakit pasiennya, tapi hanya untuk melindungi sifatnya yang suka menjadi pahlawan bagi orang lain, ia sama sekali tidak lagi mempedulikan keadaan penyakit yang diderita pasiennya. Ia mengira bahwa ia sudah menaruh perhatian dan memikirkan pasiennya, padahal sebenarnya? Sama sekali tidak. Ia sama sekali tidak memikirkan keadaan pasiennya, yang ada dalam pikirannya hanyalah memuaskan sifatnya yang suka menjadi pahlawan.
Profesor tersebut telah keliru memberikan sesuatu yang menurutnya terbaik bagi anaknya secara paksa, tanpa mempertimbangkan kemampuan menerima anaknya. Dengan demikian, ia tidak hanya gagal dalam hal mengajarkan ilmunya kepada sang anak, tetapi juga telah mencelakan diri anaknya karena sang anak sama sekali tidak bisa menerimanya!
Namun sang profesor dari awal hingga akhir masih saja beranggapan bahwa yang ia berikan adalah yang terbaik, mengapa sang anak justru tidak mau? Ia sudah terbelenggu akan pikirannya sendiri, tak terpikir olehnya bahwa ia juga mengawalinya dari SD, lalu SMP, SMA, lalu perguruan tinggi... dan seterusnya, demikian, mempelajari ilmunya setahap demi setahap!
Ia terlalu terikat akan perencanaan terhadap anaknya itu. Ia bisa menjadi seorang profesor yang baik, tapi belum tentu demikian dengan anaknya, menjadi musisi atau penulis, bukankah itu juga sangat baik? Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, memaksakan maksud dan kehendak sendiri pada orang lain, apakah ini berarti kita sudah berpikir demi orang lain?
Seperti bunyi peribahasa, hati yang baik belum tentu dapat mengerjakan hal yang baik. Memang benar, dengan suatu kesungguhan hati memikirkan orang lain seharusnya seseorang dapat memberikan sesuatu yang dibutuhkan orang tersebut, memberikan sesuatu yang bisa diterimanya, dan bukan berdasarkan pemikiran dan kepentingan diri kita sendiri.
Namun demikian kebaikan seperti ini merupakan kebaikan yang telah berubah wujud, karena menunjukkan suatu kebaikan yang justru menciptakan rintangan, hal inilah yang paling dapat menipu diri sendiri dan menipu orang lain.
Kebaikan mereka (dokter dan profesor) itu semu, tidak mencerminkan empati pada orang lain, walaupun yang ditunjukkan di situ adalah kebaikan terhadap Anda, di dalam hati mereka sesungguhnya masih terikat akan, “Anda harus melakukan hal ini menurut rencana dan pendapat saya.” Apa ini dapat dikatakan benar-benar berpikir demi orang lain? Sebenarnya mereka hanya memikirkan keterikatan mereka sendiri.
Lalu bagaimana yang dikatakan benar-benar berpikir demi orang lain?
“Saya sering mengatakan suatu ungkapan : jika seseorang tidak memiliki pikiran ego apa pun akan dirinya, tidak berpijak pada sisi kepentingan pribadinya sebagai tolok ukur, dan sepenuh hati senantiasa berbuat demi kebaikan orang lain, maka pada saat ia memberitahukan kekurangan atau kesalahan orang lain, maka orang tersebut pasti akan terharu mendengar penuturannya. Kekuatan dari Shan (kebajikan) ini sangat besar, hanya saja pada umumnya seseorang pada saat memberitahukan sesuatu yang baik pada orang lain acap kali justru membawa serta konsep kepentingan pribadinya. Bahkan ada pula yang takut akan kehilangan, sehingga terbawa serta pula perasaan hati yang berniat untuk melindungi kepentingan diri sendiri. Ada banyak faktor yang tercampur di dalamnya, maka perkataan yang terucap, kedengarannya tidak akan lugu, tidak murni lagi, dan acap kali disertai emosi. ”Jika benar-benar timbul kebaikan dari dalam sanubari Anda, dan tidak ada sedikit pun konsep manusia (=kepentingan pribadi) tercampur di dalamnya, perkataan yang Anda ucapkan benar-benar akan dapat membuat orang lain terharu.” --- Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong.
Saya berpendapat, benar-benar berpikir untuk orang lain, bukan hanya harus dapat menyingkirkan ego dan kepentingan pribadi, melainkan juga harus menggunakan hati yang murni suci berempati demi orang lain, itulah yang disebut berpikir untuk orang lain yang sesungguhnya. Marilah kita melihat ke dalam diri kita sendiri, apakah kita sudah benar – benar melakukan berempati atau berpikir demi orang lain? (Qing Yuan/The Epoch Times/lin)
Ada seorang pemuda membawa pedang berkelana. Di tengah perjalanannya melewati sebuah desa, dia berhasil menolong seorang gadis yang dikepung oleh bintang buas. Akhirnya pemuda itu mendapatkan cinta dari gadis yang ditolongnya.
Setelah pemuda itu pulang dari tujuan perantauannya dan kembali ke desa kekasihnya, dia mendengar teriakkan minta tolong dari kekasihnya.
Ternyata ada seekor binatang buas sedang menyerang rumah kekasihnya. Lalu dengan gagah perkasa dia mencabut pedang siap menikam dan membunuh binatang itu.
Akan tetapi gadis itu dengan wajah sedih berkata, “Jangan gunakan pedang lebih baik gunakan batu saja.” Semula pemuda itu merasa ragu, akan tetapi akhirnya dituruti juga petunjuk gadis itu dengan menggunakan batu membunuh binatang itu.
Dengan gembira si gadis menghamburkan dirinya dalam pelukan kekasihnya. Namun demikian si pemuda itu tidak merasa berjasa, karena dia tidak menggunakan pedangnya. Diam-diam dia mengemasi barangnya dan pergi berkelana lagi.
Lewat beberapa minggu kemudian, ketika pemuda itu pulang melewati rumah kekasihnya, dia melihat seekor binatang yang lebih besar lagi sedang menyerang rumah kekasihnya itu.
Pemuda itu lantas mencabut pedang menerjang ke arah rumah, tapi hatinya berpikir mungkin seharusnya menggunakan batu saja. Ketika dia sedang bimbang, binatang itu menerjang ke arahnya sehingga membuat lengannya terluka.
Pemuda itu terpojok hingga ke sudut tembok, dengan bimbang dia menengok ke arah si gadis yang sedang berada di jendela. Gadis itu berteriak, “Gunakan toya untuk memukulnya. . . .”
Segera dia memungut sebatang tongkat kayu bertarung dengan binatang itu. Akhirnya binatang itu mati, pemuda itu merasa sangat malu dan menolak pelukan kekasihnya. Diam-diam dia kembali meninggalkan tempat itu. Dengan membawa kekecewaan yang tak dapat diutarakan, pemuda itu melakukan perjalanannya kembali.
Ketika dia mendengar suara minta tolong dari arah kejauhan, rasa tanggung jawab menolong sesama membuat dirinya menghunus pedangnya lagi. Akan tetapi tepat pada saat itu kembali dia menjadi bimbang dan ragu, karena dia tidak tahu harus menggunakan pedang, batu ataukah toya kayu!
Apabila kekasihnya itu berada di sini, dia pasti bisa memberikan saran harus bagaimana melakukannya! Tetapi kebimbangan itu hanya sekejap, suara minta tolong yang amat ketakutan telah mengembalikan kepercayaan dirinya, telah mengembalikannya, dia segera menghunuskan pedangnya kembali dan menerjang ke kerumunan binatang-binatang itu dan membinasakannya.
Sejak saat itu si pemuda itu tidak pernah kembali ke samping kekasihnya.
Bertahun tahun kemudian, setelah mengalami tempaan kesengsaraan dan rendaman air ketabahan, saya berangsur angsur mulai memahami kandungan makna yang sebenarnya dari kisah itu. Yakni mempercayai dan sepenuhnya memberi kepercayaan.
Di dalam hati, semua pria memiliki keberanian seperti pemuda dalam kisah tadi. Mereka walaupun berterima kasih atas segala perhatian dan usulan Anda, akan tetapi mereka lebih membutuhkan kepercayaan diri untuk menghadapi kehidupan.
Apabila Anda mengira dapat memahami kekasih Anda dan tahu bagaimana harus bertindak, sehingga berusaha untuk mengubahnya. Tak peduli apakah Anda itu bagaimana baiknya, dapat merampas pilihan hidup kekasih Anda terhadap dirinya sendiri, dan hak tanggung jawab cara dia mempertahankan hidup.
Mungkin tindakan tersebut dapat membuat lelaki berangsur-angsur kehilangan percaya diri sehingga berubah menjadi curiga terhadap posisi dirinya di hati Anda. Yang akhirnya akan diam-diam pergi meninggalkan Anda.
Sebenarnya menjadi kekasih yang memenuhi syarat dan sukses tidaklah mudah, yang paling penting adalah setiap saat membuat dia tahu bahwa Anda selalu mencintainya, menyayanginya dan menghargainya.
Membiarkan diri selalu berjalan berdampingan dengannya, berjalan bersama dalam kebahagiaan dan dalam kesengsaraan. Kegembiraan ataupun air mata dipikul bersama. Setelah dia melewati kesedihan dan kesendirian, berilah perhatian yang lembut. Tetapi jangan merampas haknya untuk merenung sendiri.
Sebisanya jelaskan maksud Anda dan berusaha untuk mengerti perasaannya, tapi juga tidak boleh demi mencapai kesepakatan diam-diam lalu mengubur sifat suka berdebat. Sudah tentu bagaimanapun saling mencintai, juga bisa terjadi pertentangan, juga bisa marah.
Harus membuat dia mengerti bahwa Anda sedang marah, walaupun setelah pertengkaran hebat lalu saling berpelukan dan meneteskan air mata penyesalan, jangan biarkan kemarahan akibat perbedaan pendapat diantara kalian meninggalkan luka goresan yang tidak bisa dihapus.
Anda harus dengan tulus ikhlas dan terbuka di depan kekasih Anda bahkan pada sisi yang tidak sempurna sekalipun, agar dia bisa memahami dan dengan mantap mencintai Anda.
aku tiu akuy
“Ini bukan berarti Anda tiba pada akhir perjalanan, akan tetapi saatnya untuk berbelok.”
Artikel itu ditulis oleh seorang gadis dan sangat menyentuh hatiku. Gadis itu tidak bisa melewati kegagalan akan cinta pertamanya, dia begitu menderita sehingga berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Ketika gadis itu akan melaksanakan niatnya, tiba-tiba dia melihat tulisan di sebuah bis yang melintas, yakni “Ini bukan berarti Anda tiba pada akhir perjalanan, akan tetapi saatnya untuk berbelok.”
Seketika itu dia melepaskan pikiran untuk mengakhiri hidupnya.
Pada akhir kalimat artikel tersebut, gadis itu menulis, “Hidupku secara tak diduga telah diganggu oleh seseorang, dan kemudian secara tak disengaja pula telah diselamatkan seseorang.”
Dalam kehidupan kita dapat beberapa kali mengalami kemunduran. Akan tetapi itu bukan berarti akhir dari perjalanan, melainkan sebuah peringatan ramah yang menandakan Anda harus berbelok.
Ketika sebuah masalah timbul dalam kehidupan dan Anda tidak dapat memecahkannya, mengapa tidak berhenti sejenak dan berpikir apakah ada ruang untuk bermanuver. Mungkin dengan menggunakan pendekatan lain atau mengambil jalan lain yang dapat mempermudah keadaan.
Namun sangat sering kali terjadi, kita cenderung untuk menjebak diri sendiri dalam jurang kepedihan yang amat dalam dan terus berputar-putar dalam ruang yang sama. Kemunduran hidup bukan berarti akhir dari perjalanan. Akan tetapi dia menandakan bahwa sudah saatnya untuk berbelok.
Rubahlah mentalitas Anda, maka perilaku Anda otomatis akan berubah.
Rubahlah perilaku Anda, maka kebiasaan Anda otomatis akan berubah.
Rubahlah kebiasaan Anda, maka karakter Anda otomatis akan berubah.
Rubahlah karakter Anda, maka kehidupan Anda otomatis akan berubah.
Syukuri keadaan Anda, dan berbahagialah dalam kesengsaraan.
(Xixi/The Epoch Times/ken)
Selasa, 14 Oktober 2008
sayap yang basah
malaikat tersenyum...
tenang melihat mereka,. karena pagi masih kembali...
sayap kepak burung hantun pun berhenti...
karena malam dia akan kembali,
ketika gelap yang datang telah hilang,
dia hanya pasrah pada keadaan
Kamis, 09 Oktober 2008
akhirnya kmu bisa melihat semua yang aku tulis...
aku ga berharap banyak bahwa hubungan kita dapat berjalan seperti dulu,
yang aku mau cuma kamu tau apa yang selama ini aku rasain tentang kmu,.
maaf jg vi.... ketika kita ketemu aku ga bisa bersikap ramah seperti dulu,
aku ga mau lagi ada salah paham diantara kita, dan aku ga mau aja hub kita jadi memburuk lg......
semua tentang masa lalu kita udah aku simpan rapih dalam sebuah kotak kecil di hati aku vi, dan dia akan selalu ada disana. selamanya,,,,
aku jg jamin kenangan itu akan tersimpan rapat bahkan ga akan tersentuh debu sekalipun apalagi terbuka kembali...
aku ngerasa lega vi, akhirnya semua yang aku pendam selama ini dapat aku ungkapin,. meskipun hanya lewat sambungan huruf-huruf,,,
satu hal lagi vi.... aku juga berharap kmu bisa bahagia sm mereka, "R" or "M".... pilihlah yang menurut hati kamu terbaik, jangan liat dr sisi penampilan vi.... tp dari hatinya....... pilihlah yang membuat hati kamu bergetar ;)
banyak hal yang nantinya mungkin akan kita alami vi,
setahun, dua tahun, atau mungkin beberapa tahun ke depan....
dan ketika itu aku hanya berharap kamu baik-baik aja, dan kmu bahagia dengan orang yang kmu cinta.... ;)
aq juga minta ijin sm kmu,
meskipun kita ga mungkin lg untuk ketemu apalagi bertegur sapa,
aku mau kmu dan kenangan kita selalu ada disini, dihati aku, juga di blog ini....
karena aku akan selalu nulis tentang kmu di blog ini... sampai tangan aku letih untuk menulis
aku ga tau harus nulis apa lagi, karena semua yang terjadi hari ini terlalu berharga untuk aku umbar dengan kalimat-kalimat
sekali lagi..........
terima kasih....
terima kasih....
terima kasih....
terima kasih....
Senin, 06 Oktober 2008
kenangan yang terlupa
dan kini
semuanya tinggal kenangan untuk dilupakan
terlalu indah vi....
sepenggal kisah yang terhenti di penggalan waktu
dan harap masih tertinggal di sana
menanti kepastian yang terus menunggu
kamu mampu menemukan semuanya
dibelahan waktu
tapi aku tidak, bahkan untuk beranjak sadar dari peraduan
ketika mimpi telah terhenti....
ada banyak hal yang tidak kamu pahami....
dan semakin aq berusaha memahami,
langkahku semakin jauh tertinggal
sementara kamu tak pernah lelah dengan angan-angan yang kamu pungkiri sendiri......
terlalu indah semuanya untuk aq tampikkan dari fikiranku,
karna aq masih sayang kmu,,.....
namun bila tiada arti selama ini...
biar aq mengalah pergi, membawa penggal harapan untuk aq kenang.


